Home / Berita Umum / Bahan Baku Melonjak Imbas Dolar, Pengrajin Batik Pangkas Honor Karyawan

Bahan Baku Melonjak Imbas Dolar, Pengrajin Batik Pangkas Honor Karyawan

Bahan Baku Melonjak Imbas Dolar, Pengrajin Batik Pangkas Honor Karyawan – Tetap tingginya kurs dolar Amerika Serikat (USD) pada rupiah juga membuat harga bahan baku kerajinan batik colet di Jombang melonjak. Entrepreneur menyiasatinya dengan memotong honor karyawan biar harga batik gak naik.

Seperti yang dijalankan Sutrisno (50) , entrepreneur batik colet di Dusun Pelem, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang. Batik colet sendiri dibikin dengan tehnik pewarnaan gunakan kuas. Sesaat alur motif batik digambar gunakan pensil.

Menurutnya, kurs dolar yang hingga ini hari tetap Rp 14. 761, membuat harga sejumlah bahan baku batik naik. Harga kain mori semisalnya, sekarang ini naik sebesar Rp 1. 000 per yard atau per 91, 44 Cm. Kain mori jadi bahan basic pembuatan batik.

” Keperluan kain mori kalaupun pesanan saya tengah banyak hingga 400 yard. Harga dari pabrik Rp 18. 500 per yard, ” kata Sutrisno terhadap wartawan ditempat upayanya, Jumat (14/9/2018) .

Bahkan juga harga pengunci warna batik (water glass) , lanjut Sutrisno, naik cukuplah siginifikan. Bila awal kalinya bahan kimia import ini seharga Rp 1, 5 juta per drum (isi 330 Kg) , saat ini melambung sampai Rp 2, 1 juta per drum.

” Harga itu belumlah termasuk juga cost kirim sebesar Rp 250 ribu, ” tukasnya.

Melonjaknya harga bahan baku batik, membuat Sutrisno mesti memutar otak biar gak dibiarkan konsumen. Pemilik merk batik New Colet ini pilih memotong honor 17 karyawan yang saban hari mendukung rotasi bisnisnya.

” Harga batik masih Rp 150 ribu per lembar (200×115 Cm) . Sebab kalaupun naik, konsumen bakal protes, ” tuturnya.

Sutrisno mengakui memperkerjakan 17 karyawannya itu dengan skema borongan. Buat tiap-tiap lembar kain batik colet, umumnya dia membayar karyawannya Rp 15 ribu.

” Saya kurangi borongan karyawan Rp 1. 000 per lembar. Kalaupun ful colet Rp 15 ribu per lembar, sekarang ini jadi Rp 14 ribu per lembar. Alhamdulillah mereka pengen, ” terangnya.

Beberapa karyawan yang menguasai ibu-ibu rumah tangga itu, lebih Sutrisno, biasa bekerja lewat cara berkelompok. Rata-rata sehari-harinya, 6 pekerja sanggup menuntaskan 20 lembar kain batik colet. Dia mengharap kurs USD selekasnya dapat didesak.

” Kalaupun dolar naik selalu ya susah karyawan saya, ” jelasnya.

About admin